PERJUANGAN MENCIUM HAJAR ASWAD

Hajar aswad adalah batu hitam yang ditempelkan di salah satu sudut ka’bah. Konon kabarnya hajar aswad dan maqom ibrahim merupakan 2 benda yang berasal dari syurga. Sehingga tidaklah mengherankan apabila kedua benda tersebut (terutama hajar aswad) senantiasa menjadi rebutan jama’ah haji dan umroh. Baca lebih lanjut

ANTISIPASI DI MUSIM DINGIN

Arab Saudi identik dengan panas yang terik dan padang pasir luas, berbeda dengan Indonesia yang beriklim tropis dan hijau. Informasi tersebut membentuk persepsi pada calon jama’ah bahwa haji berarti udara yang panas. Padahal di Saudi Arabia juga terdapat 2 musim yaitu musim panas dan musim dingin. Pelaksanaan ibadah haji di tahun 1427 H bertepatan dengan musim dingin. Arab Saudi yang secara umum berudara kering, pada musim itu sangat terasa dinginnya. Berbeda sekali dengan di Indonesia yang udaranya lembab, yang ketika musim hujan, udara bahkan terasa hangat. Dinginnya udara lebih terasa bagi jama’ah Indonesia yang berangkat dalam gelombang I. Mereka terlebih dahulu datang ke Madinah pada awal bulan Desember, dimana saat itu musim dingin mencapai puncaknya. Sebagian dari mereka, kakinya pecah-pecah bahkan sampai mengeluarkan darah saking dinginnya. Baca lebih lanjut

SUASANA MAKKAH DAN MADINAH

Haromain adalah dua kota suci yang selalu di kunjungi oleh umat Islam didunia, setiap saat tiada henti. Kalau di Makkah, tampak dari jama’ah yang tiada henti thawaf sepanjang masa kecuali waktu sholat. Sedangkan di Madinah, raudhah merupakan tempat mustajabah yang selalu diperebutkan jama’ah, juga sepanjang tahun. Beberapa hadits yang menggambarkan kesucian dan kelebihan kedua kota tersebut antara lain : Baca lebih lanjut

DETIK-DETIK PEMBERANGKATAN HINGGA BERTEMU KA’BAH

Setelah menunggu bertahun-tahun lamanya, akhirnya tibalah hari pemberangkatan ke tanah suci. Senin, 11 Desember 2006 pukul 12.30 WIB dari taman krida budaya, jama’ah kloter 45 dan 46 dari kota Malang di lepas oleh Walikota Malang. Ribuan orang dengan suka rela berkumpul di bawah terik matahari ‘hanya’ untuk mengantar kepergian sang calon haji. Bahkan saat bis mulai berjalan, isak tangis keluarga yang ditinggalkan seolah tak terbendung. Di antara pengantar, ada sebagian yang bukan keluarga dan kenalan dari jama’ah haji. Sebagian dari mereka adalah para haji yang ingin mengenang kembali keberangkatan mereka. Dan sebagian yang lain adalah orang yang sangat berhasrat segera menunaikan haji (baik yang sudah mendaftar atau belum). Mereka semua larut dalam suasana haru melepas kepergian sang ‘calon haji’, sambil membayangkan kalau diri mereka yang berangkat ke tanah suci. Baca lebih lanjut

HAJI, PUNCAK KESEMPURNAAN IBADAH

Saya dari dahulu selalu bertanya-tanya, kenapa ibadah haji ditempatkan pada urutan terakhir dalam rukun Islam atau menjadi bagian dari kesempurnaan Islam. Apakah dikarenakan biayanya yang mahal, waktunya yang lama atau jaraknya yang jauh. Padahal itu semua bersifat fisik dan relatif, tergantung kondisi dan domisi yang mengerjakannya. Oleh karena itu, ketika diberi rezeki oleh Allah SWT untuk bisa melaksanakan ibadah haji, saya berusaha mencari hikmah dan pelajaran yang penting dari perjalanan ibadah haji tersebut. Baca lebih lanjut

LARANGAN HAJI : FALAA ROFATSA WALAA FUSUUQO WALAA JIDAALA

Tanggal 10 Desember 2006 (H-1), saya pamitan berangkat haji via sms kepada beberapa ustadz yang saya kenal baik, salah satunya Ustadz Muhammad Sholih Drehem. Tidak lama berselang, HP saya berbunyi dan setelah saya lihat di screen ternyata muncul nama beliau. Begitu saya tekan tombol ok, beliau bilang, ”Mabruk akhy, semoga perjalanan haji antum dan istri lancar serta mendapatkan predikat haji mabrur. Saya tidak akan memberikan nasihat panjang lebar tentang teknis manasik haji tapi yang paling penting saya ingatkan substansi ibadah haji yang disampaikan dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh ayat 197 yaitu falaa rofatsa walaa fusuuqo walaa jidaala. Selama menunaikan ibadah haji janganlah kita melakukan perbuatan dan mengucapkan perkataan cabul, jangan melakukan perbuatan fasik serta janganlah kita berdebat dalam berbagai persoalan. Cukup antum ingat ketiga hal yang sangat mendasar itu sepanjang perjalanan dan rangkaian haji antum.” Baca lebih lanjut

BEKAL PENGETAHUAN

 4.jpg

Dalam menjalankan ibadah apapun, selalu harus disertai dan didahului dengan ilmu. Rasulullah SAW sendiri pernah menyuruh orang untuk mengulang sholatnya ketika dilakukan secara tidak benar. Demikian juga halnya dengan ibadah haji. Di samping kita perlu ilmu dan pengetahuan tentang manasik haji, juga diperlukan bekal pengetahuan lain berkaitan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Arab Saudi. Dan yang paling penting kita harus memahami substansi dan makna dari ibadah haji itu sendiri, sebagai bagian dari ajaran agama Islam. Baca lebih lanjut

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.