HAJI, PUNCAK KESEMPURNAAN IBADAH

Saya dari dahulu selalu bertanya-tanya, kenapa ibadah haji ditempatkan pada urutan terakhir dalam rukun Islam atau menjadi bagian dari kesempurnaan Islam. Apakah dikarenakan biayanya yang mahal, waktunya yang lama atau jaraknya yang jauh. Padahal itu semua bersifat fisik dan relatif, tergantung kondisi dan domisi yang mengerjakannya. Oleh karena itu, ketika diberi rezeki oleh Allah SWT untuk bisa melaksanakan ibadah haji, saya berusaha mencari hikmah dan pelajaran yang penting dari perjalanan ibadah haji tersebut.
Ketika saya bandingkan antara kelima rukun Islam, memang jumlah orang yang melaksanakannya semakin menyusut. Artinya orang yang telah menyatakan masuk Islam dengan bersyahadat jumlahnya paling banyak, sementara jumlah orang yang sholat lebih kecil dari pada orang yang bersyahadat, urutan berikutnya adalah jumlah orang yang melakukan puasa, selanjutnya diikuti dengan orang yang mampu membayar zakat dan terakhir serta paling sedikit adalah jumlah jama’ah haji.
Dari aspek gerakan fisik bisa dibuat kesimpulan, syahadat hanya sekedar menggerakkan lidah dan mulut dalam waktu kurang dari 1 menit. Sementara sholat menggerakkan seluruh elemen tubuh dalam waktu kurang lebih 5 – 10 menit. Ibadah puasa melakukan pengendalian terhadap gerakan dan mekanisme lambung dalam waktu 12 – 18 jam. Sedangkan zakat disamping ada gerakan tangan untuk menyerahkan kewajiban zakatnya, juga diikuti gerakan barang / harta yang merupakan zakat yang selama ini menjadi ’milik’nya. Puncaknya haji yang melibatkan seluruh organ tubuh dengan berbagai variasi gerakan (pakai ihram, niat yg dijaharkan, wuquf, lempar jumroh, thawaf, sa’i dan memotong kambing dan rambut) dalam waktu sekitar 5-6 hari.
Salah satu yang membedakan haji dengan bentuk ibadah yang lain adalah berkaitan dengan tempat dan waktu. Haji hanya bisa dilakukan di kota Makkah dengan waktu mulai tanggal 9 dzulhijjah sampai dengan 12 / 13 dzulhijjah, dengan urutan yang telah ditentukan. Waktu dan tempat yang tertentu ini menyebabkan implikasi yang cukup kompleks. Fenomena waiting list (di Indonesia), manajemen tabungan haji (di Malaysia), mahalnya hotel dan transportasi saat musim haji, jalan macet, masjid penuh, antri kamar mandi dan sejumlah implikasi yang menyertai jama’ah sebelum dan sesudah pelaksanaan ibadah haji.
Setelah mengalami dan mengamati dinamika ibadah haji, maka ada beberapa kesimpulan yang bisa kami sampaikan terkait dengan haji sebagai puncak kesempurnaan ibadah dalam Islam :
1. Setiap bentuk ibadah ritual sesungguhnya merupakan sebuah tarbiyah yang telah Allah SWT tetapkan secara permanent dan berdampak pada terbentuknya suatu akhlaq karimah. Sebagaimana ketika Allah SWT mensyari’atkan sholat agar kita bisa mencegah perbuatan fakhsa’ dan mungkar, perintah puasa mentargetkan terwujudnya pribadi taqwa sebagai sasaran dan seterusnya. Demikian juga dengan ibadah haji, 3 larangan dalam ibadah haji sebagaimana yang telah Allah SWT sampaikan dalam Al Qur’an surat Al Baqoroh ayat 197 yaitu falaa rofatsa walaa fusuuqo walaa jidaala, merupakan sebuah target akhlaq yang harus tumbuh pada diri seorang haji. Perbuatan cabul, fasik dan debat adalah nafsu yang merupakan bahaya latent bagi setiap insan sepanjang hayatnya. Dalam setiap interaksi sosial sesama manusia, ketiga perbuatan tersebut kerap muncul secara tiba-tiba. Suasana yang tidak kondusif dan tidak kita inginkan bisa memancing timbulnya ketiga perbuatan tadi. Oleh karena itu haji yang mabrur bermakna mantapnya sistem pengendalian diri kita terhadap gejolak nafsu dan syahwat (yang terwakili 3 perbuatan tersebut), dengan berbagai kondisi sosial yang beragam.
2. Rukun Islam, mulai syahadat sampai dengan puasa bisa kita lakukan sendirian. Sedangkan zakat juga bisa kita keluarkan sendiri dari harta kita tetapi kita membutuhkan amil atau mustahik sebagai pihak yang menjadi saluran dari harta zakat kita. Mengingat tempat dan waktunya yang tertentu, maka haji tidak mungkin kita lakukan sendirian. Ada banyak orang bahkan dalam jumlah jutaan yang mempunyai kepentingan yang sama dengan kita yaitu melaksanakan ibadah haji di tempat dan waktu yang sama. Hal yang tidak bisa dihindari adalah adanya interaksi sosial terjadi selama menjalankan rangkaian ibadah haji. Pada saat itulah akhlaq kita diuji, apakah kita mampu menampilkan akhlaq karimah dan mempertahankannya di tengah situasi sosial yang tidak normal. Sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW, ”Tidaklah aku diutus ke dunia ini, kecuali untuk menyempurnakan akhlaq”. Jadi segala apapun macam dan bentuk ibadah, sasaran puncaknya adalah terbentuknya akhlaqul karimah.
3. Allah SWT senantiasa memberikan harapan atas setiap bentuk ibadah yang telah ditetapkan-Nya. Berkaitan dengan haji, hadits Rasulullah SAW menyatakan ”Tiada imbalan bagi haji mabrur kecuali jannah/syurga”. Biasanya Allah SWT menyebutkan sebuah reward untuk ibadah tertentu dengan menyebut amalannya diikuti dengan imbalan yang akan diberikan-Nya. Hanya ada 2 jenis ibadah yang Allah SWT mengungkapkannya dengan kalimat yang berbeda yaitu puasa dan haji. Dalam ibadah puasa Rasulullah SAW menyampaikan dalam hadits yang artinya, ”Semua amal manusia baginya, melainkan puasa; maka sesungguhnya puasa itu bagi-Ku dan Aku akan memberi pembalasannya (HR Bukhary).
4. Dalam manasik ibadah haji ada beberapa ketentuan yang sifatnya permanent dan tidak bisa ditawar misalnya : wuquf di arofah, mabit di muzdalifah, melempar jumroh, mabit di mina, thawaf ifadhoh dan sa’i serta mencukur rambut. Di antara yang permanent tersebut bisa digantikan oleh orang lain atau kalau meninggalkannya harus membayar dam / denda. Sementara di luar manasik yang permanet tersebut kita bisa mengisinya dengan ibadah lain yang cukup fleksible. Baik berupa ibadah sunnah maupun dengan do’a yang memang lafadznya tidak ditentukan secara khusus. Sehingga bagi orang yang tidak bisa berdo’a sama sekali (dalam bahasa arab), hajinya bisa tetap sah sepanjang semua rukunnya dikerjakan. Hal ini menggambarkan bahwa syari’ah Islam itu mudah dan bisa dilaksanakan oleh semua orang termasuk yang awam dan rendah pengetahuannya.
5. Dari beberapa uraian diatas, saya mendapati sebuah pelajaran besar bahwa pada ibadah haji terkumpul banyak nilai-nilai yang menggambarkan kesempurnaan Islam. Haji kita akan semakin mabrur ketika semakin banyak nilai-nilai Islam yang kita ekspresikan dalam ibadah haji. Nilai-nilai tersebut antara lain :
a. Kesetaraan
Nilai tersebut sangat terasa ketika kita berada di tengah lautan manusia, baik ketika thawaf, sa’i maupun sholat jama’ah di masjidil haram. Dan puncaknya ketika kita mengenakan pakaian ihram di padang arofah dan muzdalifah, semua orang terlihat sama dan setara. Biasanya orang merasa berbeda ketika ada sesuatu yang menonjol pada dirinya. Saat itu semua fasilitas yang dinikmati relatif sama, kondisi dan kewajiban yang harus dikerjakan juga sama sehingga tidak ada yang merasa dirinya istimewa.
b. Kemandirian
Sepanjang mampu maka seluruh rangkaian ibadah haji harus dikerjakan sendiri. Bahkan khusus wuquf di Arofah tidak boleh diwakilkan sama sekali, sehingga yang sakit parah terpaksa dibawa dengan ambulance yang dikenal dengan safari wuquf. Hal ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa sesungguhnya pertanggung jawaban di akhirat nanti juga tidak bisa diwakilkan, tetapi harus kita tanggung sendiri.
c. Pengorbanan
Pengorbanan ini tidak saja saat pelaksanaan ibadah haji, tetapi jauh hari sebelumnya kita sudah mulai merasakan nilai tersebut. Betapa kita harus mengorbankan waktu kita untuk belajar manasik haji, kita keluarkan sejumlah uang untuk ONH dan perbekalan, kita siapkan mental keluarga yang ditinggal selama 40 hari dan hal lain yang hilang saat menunaikan ibadah haji. Demikian juga selama di tanah suci, kita dihadapkan pada situasi yang tidak sebagaimana yang kita dapati di tanah air. Secara fisik kita harus berjalan kesana kemari dengan waktu istirahat yang terbatas. Emosional kita juga diuji dengan orang disekililing yang mungkin selera dan perilakunya kita tidak cocok. Oleh karena itu nilai pengorbanan tersebut diwujudkan secara simbolis dalam bentuk penyembelihan hewan qurban.
d. Kesungguhan
Di tengah lautan manusia yang senantiasa ada di sekeliling kita, rasanya tidak mungkin kita bisa memenuhi kewajiban tanpa sebuah kesungguhan. Kita tidak mungkin mengharapkan sebuah suasana seperti yang kita kehendaki. Sebagai contoh kecil, kita berharap bisa thawaf dengan jarak yang terdekat dengan ka’bah dengan leluasa tanpa desakan, kemudian bisa sholat dengan tenang di Hijir Ismail dan mencium hajar aswad. Tapi yang terjadi lautan manusia dengan kondisi berdesak-desakan senantiasa memenuhi halaman ka’bah selama 24 jam tanpa henti. Kalau kita malas dan menunggu sepi, hal itu tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu seluruh rangkaian ibadah haji harus kita lakukan dengan kesungguhan.
e. Universal
Sebagai ajaran yang terakhir dan berlaku untuk seluruh umat manusia, rangkaian ibadah haji mengajarkan nilai universal kepada kita. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an, hampir seluruh bangsa berbondong-bondong dan berkumpul dalam ibadah haji. Tidak peduli dengan cara apa mereka datang, semuanya berhasrat mendatangi simbol universal yaitu ka’bah. Dan salah satu ciri universal adalah mudah difahami oleh siapa saja. Sebagai contoh kalau orang menyebut KFC, maka yang terbayang tidak ada yang lain kecuali ayam goreng. Begitu juga dengan haji, bagi umat Islam langsung kebayang kerinduan mereka pada ka’bah dan wuquf di Arofah. Apalagi saat kita bisa berkomunikasi dengan saudara kita dari bangsa lain, dunia Islam ini terasa luas tanpa batas negara.
f. Fleksibel / luwes
Nilai fleksibilitas dan keluwesan dalam Islam, tampak sekali dalam rangkaian manasik haji. Selama 5 hari kita mengerjakan ibadah haji, sangat sedikit sekali aturan yang tidak boleh kita langgar atau kewajiban yang harus kita kerjakan. Selebihnya kita bisa beramal sesuai dengan ’kreativitas’ masing-masing. Begitu juga dengan urutan dan waktu pelaksanaan lempar jumroh dan thawaf ifadhoh, kita diberi keleluasaan untuk memilih menurut selera kita, walaupun tetap ada batas dan aturannya. Begitu juga dengan detil do’a yang harus dibaca, tidak banyak diatur. Berbeda dengan sholat yang aturannya sangat detil dan baku. Hal ini menunjukkan betapa Islam memberikan ruang yang cukup luas untuk kreativitas dan fleksibel dalam pelaksanaannya sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada, sepanjang tidak melanggar frame syari’ah Islam.
g. Toleransi dan persaudaraan
Saat melaksanakan ibadah haji, suatu hal pasti yang tidak bisa dihindari adalah interaksi dengan orang yang tidak kita kenal, berikut sejumlah perilakunya. Dengan jumlah orang yang sangat banyak, tidak mungkin pula kita menghindar dari permasalahan sosial. Oleh karena itu, sikap lapang dada dan toleran sangat diperlukan dalam menghadapi kondisi yang ada. Bahkan saat itulah harusnya muncul rasa ukhuwah antara sesama muslim. Kita bisa merasakan fenomena tersebut, terlihat dari senyuman antara jama’ah yang berbeda bangsa dan tidak saling kenal, menggantikan bahasa lisan yang memang tidak saling mengerti. Mereka bertemu bukan karena kepentingan dunia, tetapi karena Islam. Dan rasa kangen yang muncul dari persaudaraan Islam ini sangat terasa ketika kita pulang ke tanah air. Baik dengan suasana di tanah suci secara umum, maupun dengan jama’ah serombongan atau bahkan sekamar.
h. Keberanian
Dalam perjalanan ibadah haji, banyak sekali kita jumpai pengalaman baru. Pengalaman naik pesawat selama 10 jam, bertemu dengan banyak orang yang tidak kita kenal, berebut (dalam banyak hal) dengan jutaan jama’ah, antri, belanja dengan penjual asing dan segudang pengalaman baru lainnya. Melakukan sesuatu yang baru dibutuhkan keberanian. Dalam bahasa pelatihan, untuk berganti dari zona nyaman ke zona baru dibutuhkan energi keberanian. Atau dalam pepatah dikatakan malu bertanya sesat di jalan. Oleh karena itu menghadapi berbagai kondisi asing yang kita temui, butuh keberanian agar kita dapat memperoleh sesuatu yang kita inginkan. Kita harus berani menawar agar mendapatkan harga murah, kita harus berani menerobos lautan manusia ketika thawaf dan sa’i ataupun menuju hijir Ismail, kita harus berani melawan dinginnya udara agar kita bisa qiyamullail di masjidil haram. Apalagi kalau kita bayangkan jaman dulu, dimana Rasulullah SAW beserta para sahabat harus menempuh ratusan kilometer dengan pakaian ihram dalam waktu sekitar sepekan melewati gurun pasir yang ganas. Sekali lagi dibutuhkan keberanian untuk mengoptimalkan pelaksanaan ibadah haji.
i. Keseimbangan
Banyak diantara jama’ah haji yang ingin mengulang kembali ke tanah suci, diantara sebabnya adalah mereka merasa belum sempurna/ optimal dalam melaksanakan ibadah haji. Memang ketika kita di tanah suci, banyak sekali kesempatan emas untuk bisa melakukan ibadah dengan capaian yang maksimal. Seluruh jama’ah haji pasti ingin berlama-lama dalam mencium hajar aswad, sholat yang khusyu’ di Hijir Ismail dan Maqam Ibrahim, melempar jumroh dalam jarak yang paling dekat, do’a yang berkepanjangan di raudhah dan berbagai bentuk ideal lainnya dalam hablum minallah. Sementara disaat yang sama, secara hablum minannas kita tidak boleh menyakiti hati saudara kita yang lain, baik dalam bentuk perilaku kedzaliman pada mereka ataupun menutup kesempatan mereka dalam beribadah. Ibadah haji mengajarkan sebuah nilai keseimbangan kepada kita antara hablum minallah dengan hablum minannas.
j. Kejujuran
Ibadah haji merupakan sebuah rangkaian kegiatan yang panjang dengan beragam bentuk aktivitas. Apabila kita tidak melakukan salah satu aktivitas atau melanggar aturan maka kita harus membayar dam (denda). Misalnya ketika sudah memakai pakaian ihram, maka tidak boleh menggunakan atau terkena wewangian atau saat thawaf kita harus senantiasa dalam keadaan punya wudhu (suci). Di tengah lautan manusia, siapa yang bisa mendeteksi seluruh jama’ah haji atas pelanggaran yang dilakukannya? Jawabannya sudah pasti tidak ada. Alias diri kita sendirilah yang harus mengontrol apakah kita telah melakukan seluruh kewajiban. Atau dengan kata lain, nilai kejujuran menjadi sebuah ukuran atas kualitas atau kemabruran haji kita.
k. Pengendalian nafsu
Sebagaimana yang Allah SWT sampaikan dalam Al-Qur’an surat Al Baqoroh ayat 197 yaitu falaa rofatsa walaa fusuuqo walaa jidaala, maka pesan pengendalian nafsu menjadi muatan sentral dalam pelaksanaan ibadah haji. Kalau selama memakai pakaian ihram kita bisa mengendalikan nafsu dari perkataan cabul, perbuatan fasik dan perdebatan, diharapkan kita bisa juga melakukannya pasca haji. Kalau dalam ibadah puasa kita bisa menghindari / mengurangi aktivitas yang kita anggap bisa memicu nafsu, tetapi dalam haji kita tetap diharuskan ber’gerak’ dengan kondisi sosial yang sangat mungkin memancing munculnya nafsu lawwammah.
Alangkah indahnya dunia bila umat Islam (utamanya yang sudah melaksanakan ibadah haji) bisa mempresentasikan nilai-nilai tersebut diatas dalam kehidupan sehari-hari. Itulah kesimpulan saya terkait dengan haji sebagai puncak ibadah ritual dalam Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: