BEKAL PENGETAHUAN

 4.jpg

Dalam menjalankan ibadah apapun, selalu harus disertai dan didahului dengan ilmu. Rasulullah SAW sendiri pernah menyuruh orang untuk mengulang sholatnya ketika dilakukan secara tidak benar. Demikian juga halnya dengan ibadah haji. Di samping kita perlu ilmu dan pengetahuan tentang manasik haji, juga diperlukan bekal pengetahuan lain berkaitan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Arab Saudi. Dan yang paling penting kita harus memahami substansi dan makna dari ibadah haji itu sendiri, sebagai bagian dari ajaran agama Islam.
Realitas yang terjadi, jama’ah haji memang mempunyai keragaman dalam pemahaman mereka terhadap agama. Ada yang memang sudah memahami bahkan faqih dalam bidang pengetahuan keagamaan, tetapi sangat banyak yang masih dangkal ilmu agamanya. Bahkan ada di antara mereka yang sebelumnya belum rutin menjalankan sholat 5 waktu. Tidak terhitung juga jumlah jama’ah haji yang belum bisa tulis huruf Al Qur’an. Faktor pemahaman ini sangat berpengaruh pada pelaksanaan ibadah haji dan ibadah sunnah lainnya.
Sebagaimana kita ketahui, perjalanan haji reguler secara keseluruhan memakan waktu selama 40 hari. Namun dari waktu tersebut, hanya 5-6 hari saja yang merupakan pelaksanaan ibadah haji. Selebihnya waktu yang lain bisa kita isi dengan kegiatan lain sesuai dengan ’selera’ kita. Ada jama’ah yang mengisi hari2nya dengan umroh sunnah setiap hari dengan asumsi mumpung di Makkah, karena umroh tidak bisa dilakukan diluar Makkah. Ada juga yang sesering mungkin melaksanakan thawaf sunnah untuk mengisi hari-hari luang tersebut. Sebagian yang lain khusyu’ dengan tilawah qur’annya. Namun tidak sedikit jama’ah haji yang – karena tidak terbiasa dengan ibadah yang lama – tidak melakukan apa-apa. Sehingga hari-hari mereka hanya diisi dengan belanja di pasar, memasak di penginapan dan jalan-jalan ke pertokoan.
Pemahaman yang dangkal terhadap agama tidak hanya berpengaruh pada intensitas ibadah saja, tetapi juga terlihat dalam penyikapannya terhadap permasalahan yang muncul. Berkumpulnya jutaan manusia pada satu waktu dalam tempat yang terbatas berimplikasi pada timbulnya masalah sosial yang cukup kompleks. Respon yang muncul dari setiap jama’ah juga beragam, tergantung emosional dan spiritual question masing-masing. Tidak bisa menerima keadaan apa adanya, tersinggung dengan rekan sekamar, tidak akur antar suami istri, merasa ditelantarkan rombongan, berebut tempat sholat dengan jama’ah negara lain dan sekian banyak masalah sosial lain muncul tanpa kita duga. Semakin baik bekal pengetahuan dan pemahaman agama seseorang, biasanya lebih bijak dalam merespon permasalahan yang ada.
Beberapa komentar yang disampaikan jama’ah haji sesungguhnya menggambarkan tingkat pemahaman mereka. Di antara mereka ada yang menggerutu dengan waktu perjalanan haji yang dianggap terlalu lama dengan kegiatan yang tidak jelas. Ada juga yang membandingkan perjalanan haji dengan ziaroh wali songo. Bahkan yang paling ekstrem, ada yang menyesalkani perjalanan haji mereka. Sikap mereka yang penuh dengan apriori dan selalu mengeluh tersebut tidak menjadi solusi bagi permasalahan yang timbul, tetapi malah semakin menyulitkan posisi mereka.
Pengetahuan dan pemahaman juga sangat berpengaruh pada motivasi amal kita. Ketika kita tidak banyak tahu tentang kondisi di tanah suci, kita cenderung mengikuti apa yang di sampaikan dan dilakukan oleh pembimbing saja. Bahkan kita cenderung takut salah dalam melakukan sesuatu. Padahal para pembimbing biasanya cenderung mengakomodir jama’ah yang kondisi fisiknya lemah sehingga bagi mereka yang penting rukun hajinya terlaksana. Dengan pengetahuan dan pemahaman terhadap agama yang lebih baik, tentunya kita lebih ’berani’ dan tidak tergantung pada jama’ah di sekitar kita, terutama pada amal ibadah yang sifatnya sunnah.
Oleh karena itu saya sangat mendukung departemen agama yang mencanangkan program haji mandiri, karena memang sikap kemandirian tersebut sangat diperlukan untuk optimalisasi pelaksanaan ibadah haji secara keseluruhan. Jama’ah haji sebagai duta bangsa otomatis berpengaruh pada citra Indonesia di mata dunia. Dengan bekal pengetahuan yang lebih baik, ibadah haji merupakan sebuah sarana perbaikan citra bangsa yang sangat efektif. Sayang faktanya berbeda dengan harapan kita. Jama’ah haji yang mayoritas didominasi kaum tua dengan tingkat pemahaman yang cukup minim sehingga kecenderungannya jama’ah asal Indonesia dianggap bodoh dan harga dirinya rendah.
Saya sampaikan fenomena minimnya pemahaman jama’ah haji diatas sebagai tantangan bagi kita semua, terutama para da’i dan departemen agama. Peningkatan pengetahuan jama’ah haji berarti perbaikan citra bangsa. Semoga kita semua punya kontribusi besar dalam perbaikan harkat dan martabat bangsa yang sedang terpuruk saat ini, amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: