PERJUANGAN MENCIUM HAJAR ASWAD

Hajar aswad adalah batu hitam yang ditempelkan di salah satu sudut ka’bah. Konon kabarnya hajar aswad dan maqom ibrahim merupakan 2 benda yang berasal dari syurga. Sehingga tidaklah mengherankan apabila kedua benda tersebut (terutama hajar aswad) senantiasa menjadi rebutan jama’ah haji dan umroh.

Mencium hajar aswad merupakan sunnah Rasulullah SAW yaitu sebuah tindakan yang pernah dilakukan Rasulullah SAW sehingga kita sebagai umatnya hendaknya mengikuti sunnah beliau. Dalam menyikapi sunnah mencium hajar aswad tersebut, sahabat Umar bin Khaththab yang dikenal sangat rasional, dihadapan hajar aswad beliau berkata, ”Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW mencium kamu (hajar aswad) maka akupun tidak mencium kamu”. Artinya dalam konteks aqidah sesungguhnya batu tersebut tidak mempunyai nilai magis ataupun kelebihan di banding batu yang lain. Tetapi karena Rasulullah SAW mencium batu tersebut (tentunya dengan petunjuk Allah SWT), maka kita pun berusaha agar dapat melakukannya pula.

Sejak awal masuk masjidil haram, saya sering naik ke lantai 2 dan 3 sambil memperhatikan dinamika jama’ah yang sedang thawaf, masuk hijir ismail maupun rebutan mencium hajar aswad dan berdo’a di multazam. Dan yang paling padat memang berpusat pada jama’ah yang mau mencium hajar aswad. Tidak hanya padat tapi juga mengalir dari berbagai arah, sehingga proses antrian tidak sesuai dengan arah jama’ah yang sedang thawaf. Mereka semua berusaha mendekati hajar aswad dengan berbagai caranya masing-masing. Kegiatan saling mendorong dari berbagai arah membuat arus jama’ah bertambah macet dan padat. Ketika menikmati pemandangan arus padat tersebut dari lantai 3, saya sempat berfikir mungkinkah kita bisa mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam mencium hajar aswad.

Menyikapi fenomena rebutan hajar aswad yang semakin padat tersebut, secara umum jama’ah haji terbagi dalam 2 golongan yang berseberangan. Yang pertama beranggapan bahwa mencium hajar aswad itu hanyalah bersifat sunnah saja, bukan termasuk rukun dalam ibadah haji sehingga tidak menciumpun tidak ada masalah. Golongan yang pertama ini sesungguhnya masih bisa bagi lagi dalam 2 klasifikasi yaitu orang yang pada dasarnya malas dan takut resiko sehingga mereka mempunyai pikiran ngapain susah2 bahkan mungkin bisa celaka hanya untuk mengejar sesuatu yang bersifat sunnah. Sedangkan yang lain sebenarnya punya keinginan yang kuat untuk bisa mencium hajar karena sunnah merupakan sebuah keutamaan yang perlu dikerjakan, namun mengingat padatnya arus jama’ah yang ada dan kemungkinan terjadi kecelakaan baik terhadap dirinya maupun pada orang lain maka mereka memilih tidak ikut kompetisi. Dengan demikian jumlah jama’ah yang berebut jadi berkurang dan mereka merasa mengalah dan memberikan kesempatan kepada orang lain.

Sedangkan golongan yang kedua adalah orang yang merasa harus bisa (mewajibkan dirinya) untuk mencium hajar aswad walaupun itu hanya sunnah sifatnya. Bahkan sebagian diantara mereka ’menghalalkan segala cara’ demi hajar aswad. Mulai dari mendesak, mendorong, menyikut bahkan membayar orang agar dia dilindungi hingga sampai dan bisa mencium hajar aswad.

Sampai hari ke-27 di kota Makkah (sudah melewati proses haji) saya belum pernah mencium hajar aswad. Saya masih bimbang diantara sikap 2 golongan sebagaimana yang saya sampaikan diatas. Akhirnya pada hari ke-28 saya mengambil keputusan untuk mengambil jalan tengah diantara 2 titik ekstrem tersebut. Saya sangat ingin menjalankan sunnah Rasulullah SAW tersebut dan saya harus pernah berusaha, adapun hasilnya Allah SWT yang akan tentukan apakah saya berhasil atau tidak. Kalau saya tidak pernah mencoba sama sekali, saya takut termasuk menjadi golongan orang yang malas atau takut resiko. Kalau saya tidak pernah mencoba, lalu dimana letak kesungguhan saya dalam menjalankan sunnah?

Begitulah akhirnya pada malam ke-28 (tanggal 9 Januari 2007) jam 01.00 dini hari seorang diri saya berangkat menuju ka’bah dengan niat mengikuti sunnah Rasulullah SAW yaitu mencium hajar aswad. Saya hanya memakai celana dan kaos T-shirt saja tanpa gelang identitas, jam tangan maupun HP agar saat masuk arus yang padat tidak terlalu banyak gangguan. Semakin mendekat dengan ka’bah ada perasaan yang berbeda dengan biasanya, jantungpun semakin berdetak lebih keras. Ketika sudah masuk dalam pusaran jama’ah yang sedang thawaf, saya coba mantapkan hati untuk bisa khusyu’. Saya senantiasa berdo’a ”yashiru wa laa tu’ashshiru”, Ya Allah mudahkanlah maksud hamba untuk mengikuti sunnah Rasul-Mu, janganlah Engkau persulit. Ya Allah, kondisi saat ini hajar aswad menjadi rebutan orang banyak, tugas hamba hanya berusaha, oleh karena itu semoga dalam proses menuju ke sana janganlah hamba menyakiti orang lain yang punya tujuan yang sama dan semoga hamba tidak tersakiti juga oleh orang lain tesebut”. Do’a tersebut saya baca secara berulang sambil berputar mengikuti arus jama’ah yang sedang thawaf.

Pada putaran pertama saya masih berjarak sekitar 3 meter dari ka’bah sehingga saya berputar lagi sambil mencari celah menuju arah hajar aswad. Pada putaran kedua, tiba-tiba ada celah yang cukup longgar ke arah hijir ismail. Saat itu langsung muncul niat untuk mampir ke hijir ismail dulu. Sampai di dalam hijir ismail kondisi cukup padat sehingga tidak memungkinkan untuk sholat sunnah. Kemudian ada jama’ah yang berada dalam area yang cukup bagi dia untuk sholat (walaupun tidak leluasa), tapi dia butuh lindungan agar tidak terdesak jama’ah yang baru masuk. Akhirnya beberapa orang di sekitarnya (termasuk saya) berusaha membentuk formasi lingkaran sebagai pelindung agar dia bisa sholat dengan tenang. Pada saat itu saya bertemu dengan pak Imam Syafi’i (teman se-KBIH) yang juga dalam posisi melindungi jama’ah yang lain. Karena beliau sudah selesai sholat dan disebelahnya ada tempat yang cukup untuk sholat, maka beliau mempersilahkan saya untuk segera menempati dan sholat sunnah. Ternyata beliau tidak sendirian, tetapi berdua dengan mas Misbah (juga teman se-KBIH) yang saat itu sedang berdo’a dengan cara menempelkan tubuhnya ke dinding ka’bah. Setelah selesai sholat sunnah, pak Imam Syafi’i menunjukkan tempat mas Misbah berdo’a dan saya diminta untuk gantian berdo’a ditempat tersebut. Sayapun akhirnya berdo’a di dinding ka’bah dan salah satu permohonan saya adalah agar saya bisa diperkenankan untuk mencium hajar aswad sebagai perwujudan ittiba’ Rasulullah SAW.

Setelah cukup puas berdo’a, saya keluar dari hijir ismail dan bersiap berdesakan menuju hajar aswad. Salah satu fenomena unik di sekitar ka’bah adalah ditengah padatnya arus jama’ah yang sedang thawaf ada saja celah ruang kosong yang terkadang terbuka begitu saja berada di hadapan kita. Begitu keluar dari hijir ismail, saya kembali mendapati ruang kosong antara antrian jama’ah yang mau ke hajar aswad dengan jama’ah yang berniat thawaf saja. Saya sempat menunggu kedua teman dalam waktu yang relatif lama (dalam hitungan detik, lebih dari 10 detik) agar bisa bareng dan saling bantu dalam mencium hajar aswad. Namun karena mereka berdua tidak kunjung kelihatan, maka saya kembali merapat ke jama’ah yang sedang antri menuju hajar aswad.

Ka’bah merupakan sebuah bangunan berbentuk mirip kubus dengan ukuran panjang 9 meter, lebar 9 meter dan tinggi 9 meter. Pada dinding luar ka’bah terdapat lempengan kuningan yang menonjol dan membentuk formasi kotak-kotak kecil. Sementara pada dinding yang menempel di lantai terdapat marmer putih berbentuk segitiga yang tingginya kurang lebih 50 cm. Cara yang relatif aman untuk antri dalam mencium hajar aswad adalah naik segitiga yang menjadi kaki ka’bah tersebut dan menempelkan tubuhnya pada dinding ka’bah. Agar tidak jatuh mereka juga berpegangan pada lempengan kuningan yang terdapat pada dinding ka’bah. Sehingga dinding sepanjang antara rukun (sudut) syamsi dengan rukun hajar aswad terlihat barisan jama’ah yang sedang naik segitiga marmer. Sedangkan yang tidak bisa naik, antri dibawahnya sampai 2-3 shaff berhimpitan sampai menuju hajar aswad. Adapun bila sudah tepat dibawah hajar aswad, antrian jama’ah sudah terdiri dari berbagai arah sehingga bila terdapat dorongan yang kuat dari jama’ah yang arahnya berlawanan maka kitapun bisa terpental kembali. Hal inilah yang menyebabkan ada orang yang sudah hampir sampai ke hajar aswad tetapi akhirnya terpental dan tidak bisa mencium hajar aswad.

Alhamdulillah, setelah antri beberapa saat saya mendapat giliran untuk antri diatas segitiga marmer. Dengan berpegangan lempengan kuningan saya mencoba bertahan dari berbagai dorongan yang terkadang terasa menekan kita ke depan, belakang bahkan menghimpit ke dinding ka’bah. Ketika proses antri tersebut otomatis seluruh tubuh kita menempel pada dinding ka’bah. Saat itulah saya begitu menikmati bau harumnya dinding ka’bah yang memang sangat wangi. Sambil menghirup wewangian dinding ka’bah, saya terus berdo’a agar diperkenankan dan dipermudah dalam mencium hajar aswad. Kemudian saya juga berdo’a agar terhindar dari berbagai bentuk kesyirikan. Allahumma inna na’udzubika min annusyrika bika syai’a na’lamu wa nastaghfiruka limaa laa na’lamu. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari segala bentuk kesyirikan yang kami ketahui dan kami mohon ampun atas segala bentuk kesyirikan yang kami lakukan karena ketidaktahuan kami. Saya berulang-ulang membacakan do’a tersebut agar dalam proses saya mencium dinding ka’bah dan hajar aswad bukan karena semata kedua benda tersebut tapi betul-betul karena mengikuti Rasulullah SAW dan cinta kepada Allah SWT.

Setelah antri sekitar 10 menit, sampailah saya di sebelah hajar aswad. Saya katakan sebelah karena saya berada di belakang / sebelah kanan hajar aswad dan sudah tidak ada orang lain yang antri didepan saya. Tetapi dari arah depan hajar aswad orang berjubel dan rebutan sehingga saya tidak bisa langsung menciumnya. Untuk mempertahankan posisi, tangan kiri saya berpegangan pada bibir hajar aswad yang atas sambil tetap melihat peluang untuk memasukkan kepada ke dalam rongga hajar aswad. Sambil menunggu kesempatan, saya sempat memperhatikan dinamika jama’ah yang sedang berebut menuju hajar aswad (dalam hitungan detik). Saya coba perhatikan bagaimana mereka berusaha dan berebut naik ke hajar aswad. Sebagian diantara mereka saling bantu dengan cara mendekatkan dan mengangkat temannya agar bisa segera masuk ke rongga hajar aswad. Tetapi tidak sedikit diantara mereka yang berusaha sendiri dan menyingkirkan setiap orang yang menghalanginya. Saya juga perhatikan bagaimana mereka proses turunnya orang yang sudah selesai mencium hajar aswad, karena sayapun nanti turun melalui massa yang berjubel itu juga.

Pemandangan yang ada dirongga hajar aswad adalah keluar masuknya kepada jama’ah secara bergantian dengan waktu yang relatif sebentar/cepat. Tiba-tiba rongga hajar aswad terlihat kosong, maka dengan cepat saya turunkan kepala dan segera saya masukkan ke hajar aswad. Karena posisi saya dari sebelah kanan (bukan dari depan) dan sebagian badan saya tidak tepat berada didepan hajar aswad maka saya terasa lama untuk menyentuh hajar aswad. Beberapa kali saya ayunkan kepala saya agar bisa segera mencium batu syurga tersebut. Begitu hidung ini menyentuh hajar aswad sesaat, pada saat yang sama terasa ada tangan orang lain yang mau menarik kepala saya. Saat itu pula saya sadar bahwa orang lain mengganggap saya sudah cukup lama mencium hajar aswad dan giliran jama’ah yang lain. Oleh karena itu saya segera menarik kepala saya dan berusaha segera keluar dari kerumunan jama’ah yang mau mencium hajar aswad. Proses keluarnya ternyata tidak serumit yang saya bayangkan. Saya cukup mengikuti arus yang ada dan demi sedikit mengarah keluar menjauhi hajar aswad. Selanjutnya kembali mengikuti arus jama’ah yang sedang thawaf sampai kemudian keluar menuju tempat yang lebih lapang.

Ada perasaan lega, senang dan haru yang bercampur jadi satu. Sebuah perjuangan mengikuti sunnah Rasulullah SAW telah selesai dilalui. Semoga menjadi pelajaran agar kita senantiasa mempunyai kesungguhan dan jiddiyah yang sama dalam mengikuti sunnah Rasulullah SAW yang lain, sebagaimana kesungguhan dan pengorbanan kita dalam mencium hajar aswad.

Amin.

4 Tanggapan

  1. Apakah nama lengkap Anda adalah Helmy Afrul? Pernah tinggal di Surabaya?

  2. Mas Helmy, blog mas iwan http://www.pacarair.blogspot.com bisa ditambahkan di link

  3. Numpang lewat …. Bung Helmy ????
    Dalam sejarah ………. Syaidina Ali pernah akan menghancurkan Hajjar Aswad, karena beliau berpikir akan terjadi kesyirikan atas umat Rasulullah dikemudian hari.
    Tapi hal tsb dicegah Rasulullah dan Beliau berkata kepada sahabat Ali ” engkau belum tahu rahasia dibalik batu ini ” .
    Nahhhh ….. apakah kita tahu makna yang tersirat dari :
    – Hajjar Aswad tsb
    – Juta’an umat yg melaksanakan thawaf ?
    – Dan berapa persen yang mabrur ????
    Wassalam,

  4. Subhanallah Maha suci Allah SWT
    Terimah kasih sdh berbagi pengalaman bgm bisa sampai dan mencium Hajar Aswad,dan jadi tahu sebagai bekal aq kelak apabila berkunjung ke rumah Agung Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: