ANTISIPASI DI MUSIM DINGIN

Arab Saudi identik dengan panas yang terik dan padang pasir luas, berbeda dengan Indonesia yang beriklim tropis dan hijau. Informasi tersebut membentuk persepsi pada calon jama’ah bahwa haji berarti udara yang panas. Padahal di Saudi Arabia juga terdapat 2 musim yaitu musim panas dan musim dingin. Pelaksanaan ibadah haji di tahun 1427 H bertepatan dengan musim dingin. Arab Saudi yang secara umum berudara kering, pada musim itu sangat terasa dinginnya. Berbeda sekali dengan di Indonesia yang udaranya lembab, yang ketika musim hujan, udara bahkan terasa hangat. Dinginnya udara lebih terasa bagi jama’ah Indonesia yang berangkat dalam gelombang I. Mereka terlebih dahulu datang ke Madinah pada awal bulan Desember, dimana saat itu musim dingin mencapai puncaknya. Sebagian dari mereka, kakinya pecah-pecah bahkan sampai mengeluarkan darah saking dinginnya.

Suhu udara di Madinah bisa mencapai 5o celcius. Tetapi bila dibandingkan dengan gunung bromo yang udaranya 0o celcius, masih lebih terasa dingin di Madinah. Dinginnya betul-betul menembus baju setebal apapun dan serasa merasuk ke tulang. Apalagi di sore atau malam hari, angin gurunpun terkadang datang hingga masuk kota Madinah, menambah dinginnya suasana. Para jama’ahpun lebih banyak berdiam di dalam masjid atau pulang ke rumah untuk istirahat, baik siang ataupun malam. Saya tergolong beruntung karena termasuk gelombang II sehingga pertengahan januari baru masuk kota Madinah dan dinginnya sudah mulai berkurang. Bahkan selama di tanah suci, saya tidak pernah berkeringat karena panas matahari kecuali saat sholat jum’at terakhir di masjidil haram lantai 3. Selebihnya udara sejuk cenderung dingin yang saya rasakan sepanjang perjalanan.

Udara dingin sebenarnya tidak menjadi masalah serius, sepanjang kita sehat dan membawa pakaian dingin. Bahkan udara yang dingin, cenderung membuat kita bisa betah dalam beribadah. Namun ada hal kecil yang patut diperhitungkan dalam musim dingin, yaitu buang air kecil. Masalah ini sepele, tetapi bila tidak diperhitungkan dengan baik maka akan mengganggu kekhusyukan kita dalam beribadah. Udara yang dingin membuat kita sering ke buang air kecil apalagi bagi mereka yang sudah berusia lanjut, sementara kamar kecil di masjid jumlahnya terbatas dibanding jama’ah yang ada saat itu. Fenomena antri di depan kamar mandi menjadi pemandangan yang biasa, apalagi menjelang waktu sholat. Hal ini tidak saja terjadi di masjidil haram, tetapi juga saat kita di padang arofah, muzdalifah, mina maupun di masjid nabawy. Kejenuhan waktu antri itulah yang terkadang membuat kita menghindari untuk buang air di kamar mandi umum. Apalagi orang yang kita tunggu, ternyata sedang ’menikmati’ buang air besar ataupun mandi.

Persoalan kamar mandi bagi sebagian orang merupakan hal yang sangat pribadi sifatnya. Mereka tidak bisa melakukan aktivitas ’buang hajat’nya di sembarang kamar mandi. Biasanya mereka berusaha menghindar dari kamar mandi umum yang terdapat di masjid. Sedangkan hotel tempat penginapan mereka cukup jauh jarak tempuhnya. Pulang pergi ke masjid setiap waktu sholat, demi menghindarkan antri di kamar mandi bukan pilihan yang tepat. Demikian juga menahan buang air kecil mulai waktu sholat ashar hingga isya juga bukan pilihan yang mudah. Pilihannya adalah kita perhitungkan setiap faktor yang bisa kita kendalikan/menahan buang air lebih lama. Misalnya sebelum pergi ke masjid tidak terlalu banyak minum, memakai kaos kaki dan baju hangat yang tebal serta membawa sajadah agar tidak terlalu merasa dingin yang memancing buang air kecil.

Saya mempunyai pengalaman pada hari ketiga di tanah suci, sebagaimana biasa kami pergi ke Masjidil Haram pukul 03.30. Saat itu saya berdua dengan pak Wugu (teman sekamar) mencoba sholat di lantai III yang memang tidak beratap dan berdinding. Suasana angin pagi yang cukup dingin menerpa kami selama qiyamullail. Karena waktu subuh masih lama dan suasana yang dingin, saya pamitan kepada pak Wugu untuk thawaf sunnah. Tapi menjelang putaran ketiga, ternyata rasa ingin buang air kecil tidak bisa ditahan. Sementara di dalam masjidil haram (apalagi di lantai III) tidak ada kamar kecil, yang ada hanya tempat wudhu aja. Akhirnya saya harus turun ke luar masjid dan antri sekitar 15 menit di kamar mandi umum. Setelah saya harus kembali lagi ke lantai III, untuk meneruskan thawaf sunnah.

Musim haji di waktu dingin, menurut perhitungan akan berlangsung hingga 2014. Artinya bagi jama’ah haji yang mau menunaikan ibadah haji hingga tahun tersebut akan merasakan suasana dingin di tanah suci. Bekal kaos kaki, baju hangat dan sejumlah obat-obatan yang diperlukan saat musim dingin agar dipersiapkan agar ibadah kita jadi optimal.

Wallahu’alam bishshowab.   

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: