HAJI, UNDANGAN ATAU KESUNGGUHAN?

22.jpg

Banyak orang yang mengatakan bahwa haji itu merupakan sebuah bentuk ibadah yang bisa dilakukan oleh orang yang hanya telah mendapatkan panggilan langsung dari Allah SWT. Dan kenyataannya memang banyak orang yang sebenarnya mampu (baik fisik maupun harta) untuk berangkat haji tetapi belum melaksanakannya. Alasan mereka adalah belum mendapat undangan. Kalau pertanyaan ini kita teruskan, undangan dari Allah SWT itu bentuknya seperti apa? Fisik atau panggilan hati atau yang sering kita sebut hidayah Allah SWT?
Saya mencoba mengamati beberapa orang yang secara ekonomi mampu tetapi belum menunaikan ibadah haji. Dengan mengabaikan faktor undangan dari Allah SWT, saya mendapati beragam faktor yang membuat mereka belum berangkat haji, antara lain :

  1. Mereka merasa takut dengan masa lalunya yang kelam. Mereka beranggapan bahwa perbuatan mereka di masa lalu begitu kelam akan mendapatkan balasan yang setimpal di tanah suci (hukum karma). Mereka secara mental tidak siap ketika balasan itu datang apalagi saat mereka disaksikan banyak orang di tanah suci. Mereka lebih memilih menghajikan orang lain daripada berangkat sendiri.
  2. Mereka merasa masih belum siap untuk selalu baik. Mereka beranggapan bahwa ibadah haji merupakan puncak / kesempurnaan dalam ibadah yang ke’sakral’annya harus dijaga. Sehingga orang yang sudah beribadah haji tidak boleh melakukan tindakan kemaksiatan sama sekali. Mereka masih beranggapan masa mudanya belum dinikmati secara maksimal, padahal kebaikan itu cenderung banyak pembatasan. Sehingga ibadah haji akan mereka lakukan di usia yang relatif senja, dimana keinginan / syahwat sudah banyak berkurang. Mereka biasanya mendahulukan menghajikan orang tuanya dulu yang memang pantas untuk melakukannya dibanding dirinya.
  3. Mereka merasa haji belum menjadi prioritas dalam hidupnya. Haji yang memang menuntut pengorbanan fisik dan harta bagi mereka merupakan urutan yang kesekian dalam kehidupan ini. Rumah yang megah, mobil yang mengkilat, pendidikan anak, asuransi, taman yang indah, rekreasi di luar negeri dan berbagai tuntutan kehidupan lain merupakan kebutuhan yang menjadi prioritas utama mereka. Jadi mereka baru akan melaksanakan ibadah haji apabila ada harta yang lebih dari kebutuhan dan prioritas utamanya.
  4. Mereka merasa ’eman’ dengan biaya haji yang cukup besar. Mereka sebenarnya mempunyai harta yang cukup, tetapi ada perasaan sayang kalau harta tersebut digunakan untuk membiayai ibadah haji. Mereka sadar bahwa haji merupakan sebuah kewajiban agama, tetapi kan sekali dalam seumur hidup dan kapan saja. Sehingga mereka lebih senang untuk mengembangkan modalnya terlebih dulu dalam bentuk investasi daripada untuk menunaikan haji. Sedangkan haji akan mereka lakukan ketika kesempatan berinvestasi dan berusahanya sudah berkurang.
  5. Mereka merasa takut belum bisa memenuhi budaya masyarakat terkait dengan haji. Dalam masyarakat Indonesia, ibadah haji mendapatkan tempat yang spesial. Banyak sekali tuntutan masyarakat terhadap orang yang pergi haji. Mulai dari sebelum berangkat harus mengadakan syukuran, pulangnya bawa oleh2 dan memberi makan pada yang ziaroh, harus bisa jadi imam dan berdo’a dan berbagai tuntutan sosial yang lain. Hal-hal demikianlah yang membuat mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya secara lebih dari tuntutan syariat haji itu sendiri.
  6. Mereka yang alasannya merupakan kombinasi dari kelima alasan diatas, baik secara keseluruhan maupun sebagian saja. Artinya beberapa alasan diatas menjadi hal yang kompleks, sehingga menyurutkan niat seseorang untuk menunaikan ibadah haji.

Dari berbagai kondisi dan latar belakang seperti itulah, akhirnya mereka menutupi keengganan mereka untuk menunaikan ibadah haji dengan alasan bahwa saya belum mendapat undangan atau hidayah. Kalau kita bicara tentang undangan secara tertulis sesungguhnya secara jelas tertera dalam Al- Qur’an surat Al-Hajj ayat 27-30 yang artinya, ”Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang Telah ditentukan atas rezki yang Allah Telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. Kemudian, hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah). Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang terhormat di sisi Allah Maka itu adalah lebih baik baginya di sisi Tuhannya. dan Telah dihalalkan bagi kamu semua binatang ternak, terkecuali yang diterangkan kepadamu keharamannya, Maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”. Sedangkan kalau kita bicara tentang panggilan hati / hidayah sesungguhnya Allah SWT sudah menyerahkan hal tersebut kepada pilihan kita sendiri dengan firman-Nya dalam Al Qur’an surat asy-syams ayat 8-10 yang artinya sebagai berikut : ”Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” Ayat tersebut sangat jelas, apakah kita mempunyai kesungguhan untuk memilih jalan kefasikan atau ketakwaan. Jadi saya menyimpulkan bahwa semuanya berpulang pada niat dan kesungguhan kita. Walaupun kata akhirnya kita serahkan pada ketetapan Allah SWT.
Dalam kesempatan ini, saya ingin berbagi pengalaman agar hambatan yang saya paparkan diatas sedikit berkurang. Beberapa point yang ingin saya sampaikan adalah :

  1. Ibadah haji merupakan gabungan antara perjalanan fisik, emosional dan ruhani. Perjalanan yang memakan waktu selama 40 hari dengan tempat yang berpindah-pindah (belum terhitung masa persiapan dan silaturrahim pasca haji) memerlukan persiapan fisik dan mental yang prima. Dalam hal ini faktor usia, kesehatan dan tingkat kedewasaan sikap sangat menentukan. Untuk itu saran pertama saya adalah berhajilah anda pada usia muda. Usia 20-30 tahun merupakan usia yang ideal bagi seseorang untuk berhaji. Berkaitan dengan prioritas kebutuhan, kita harus yakin bahwa rezeki itu Allah SWT sudah tentukan takarannya untuk kita semua. Jadi kalau anda sudah punya rumah dan kendaraan yang memadai, sebaiknya prioritas selanjutnya adalah menunaikan ibadah haji. Sedangkan kebutuhan yang lain bisa kita kejar setelahnya, karena usia itu berkaitan dengan waktu yang tidak bisa digantikan keberadaannya.
  2. Saran kedua adalah sebelum anda berangkat haji, galilah sebanyak mungkin pengetahuan dan informasi yang berkaitan dengan haji. Baik pengetahuan tentang substansi dan manasik haji ataupun informasi yang berkaitan dengan permasalahan teknis di tanah suci terutama menyangkut kehidupan sosial, penginapan, makanan, transportasi dan hal detil yang lain. Saat ini banyak buku dan media elektronik yang menyuguhkan informasi tentang ibadah haji dan kondisi di tanah suci. Dan jangan lupa bertanya pada jama’ah yang sudah berangkat haji yang mampu secara obyektif menyampaikan pengalamannya.
  3. Berkaitan dengan kekhawatiran masa lalu, kita harus yakin dengan sifat rahman, rahiim dan ghaffur dari Allah SWT. Saya mempunyai pengalaman ada seorang teman satu rombongan yang masa lalunya juga kurang baik. Namun beliau sudah menyatakan tobatnya dan berharap dengan ibadah haji adalah tambahan komitmen untuk perbaikan dirinya. Dan itulah yang terjadi pada dirinya. Bahkan selama proses ibadah haji, saya melihat kelebihan dia dalam beribadah dibanding yang lain. Tidak ada kejadian aneh yang menimpa dirinya berkaitan dengan masa lalunya, malah kemudahan yang sering didapatnya. Jadi kondisi disana sangat tergantung pada niat kita. Ketika kesombongan yang muncul, maka terjadilah hal-hal yang tidak kita inginkan. Apakah itu bentuknya kita jadi tersesat jalan, sakit yang berkepanjangan, pertengkaran pada hal-hal yang sepele, tidak dapat tempat yang lapang di masjid atau hal-hal lain yang bagi kita memberatkan.
  4. Berkaitan dengan anggapan bahwa setelah menunaikan ibadah haji kita tidak boleh bermaksiat dan kita harus berbuat baik, sesungguhnya sebelum ibadah hajipun kita tidak boleh melakukan maksiat dan harus selalu berbuat baik. Sehingga dengan momentum haji ini, kita manfaatkan untuk memperkuat komitmen diri agar senantiasa cenderung kepada ketaqwaan. Ketika ibadah haji menjadi sebuah media tarbiyah kolosal, insya Allah negeri kita (sebagai kontributor terbesar dalam jama’ah haji) akan menjadi negeri yang dipenuhi orang beriman dengan banyak keberkahan sebagaimana yang Allah SWT janjikan dalam Al Qur’an surat An-Nuur ayat 55 yang artinya ” Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.”

Jadi kesimpulan uraian diatas adalah bahwa kewajiban kita adalah berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan syari’at Islam. Dalam konteks haji, maka upaya yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan bekal (baik harta, ilmu serta fisik) agar secara logika kemanusiaan kita siap melaksanakan ibadah haji. Menabung dan mendaftar merupakan bentuk riil dari persiapan dan kesiapan kita. Kalau semua itu sudah kita lakukan, barulah berserah diri kepada undangan Allah SWT, apakah kita dipanggil atau tidak. Dan itulah ciri umat Islam, sebagai umat pertengahan, kita wajib bertumpu pada usaha tetapi tetap menggantungkan pada takdir Allah SWT.Allohu ’alam bishowwab.

Satu Tanggapan

  1. Artikel yang lain ditunggu,. Teruslah menulis sampai aktifitas menulis seperti semudah aktifitas kita membaca,…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: