RIYA’ DAN TASYAKURAN HAJI

3.jpg

Fenomena yang jamak dalam tradisi ibadah haji adalah tasyakuran sebelum berangkat haji. Tasyakuran ini modelnya beragam mulai dari orang yang diundang, waktu, makanan yang disuguhkan ataupun souvenir dan pernak-pernik yang lain. Motivasi dan latar belakangnyapun beragam, mulai dari sekedar mengikuti tradisi sampai dengan sebagai ajang pamer atau sebagai ukuran kesuksesan seseorang. Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas hal teknisnya, tetapi sejauhmana dampak dan efektifitas tasyakuran tersebut pada substansi haji yang kita inginkan.
Ibadah haji adalah ibadah yang tidak semua kaum muslimin ’dapat’ melakukannya dan secara sosial mempunyai posisi yang spesial di masyarakat Indonesia. Dalam tradisi etnis Madura misalnya, seseorang yang sudah melaksanakan haji dianggap lebih dan terhormat walaupun tingkat ekonomi dan sosialnya relatif rendah. Untuk itu mereka sangat memprioritaskan haji dibanding rumah, mobil dan sejumlah simbol kesuksesan dunia yang lain. Semangat menabung mereka untuk pergi haji pantas kita ancungi jempol. Istilahnya rumah boleh ngemper, pekerjaan boleh mbecak, makan karak (nasi kering) juga tidak masalah asal bisa menabung untuk segera pergi haji. Hampir tidak ada masyarakat Madura yang tidak punya keinginan untuk pergi haji.
Ketika kita bicara tentang motivasi, maka sudah sepantasnya kita mencontoh masyarakat Madura dalam hal haji. Namun ketika kita bicara ekses dari motivasi kolosal yang berlebihan, maka kita patut berhati-hati. Dalam realitanya motivasi yang berlebihan bisa menyebabkan orang menghalalkan cara dalam mencapai tujuan. Seseorang yang melihat lingkungan sekitarnya dapat merealisasikan tujuannya (dalam hal ini haji) maka bisa muncul 2 sikap, yang pertama timbul rasa cemburu yang berefek positif sehingga menggairahkan mereka dalam bekerja. Sikap yang kedua adalah timbulnya rasa malu dengan keberhasilan orang lain sehingga menempuh segala cara agar mencapai kesuksesan yang bisa menyainginya. Di sinilah mulai terjadi penyimpangan niat dan bibit-bibit persaingan yang tidak sehat. Niat semula yang ingin menyempurnakan rukun Islam sesuai dengan kemampuan dan karunia Allah SWT, membelok menjadi tidak ingin dikatakan orang lain tidak sukses dengan ukuran sudah bisa pergi haji. Jadi niat haji bukan karena Allah SWT tetapi karena orang lain. Dan itulah riya’, sebuah pekerjaan yang sulit untuk dideteksi keberadaannya.
Demikian juga dengan fenomena tasyakuran haji. Semula tasyakuran diniatkan sebagai ajang silaturrahim dan pamitan kepada lingkungan sekitar serta handai taulan. Isi dari tasyakuran haji intinya permohonan do’a agar perjalanan ke tanah suci lancar sekaligus motivasi bagi yang belum menunaikannya. Tasyakuran tersebut biasanya dilakukan satu atau dua minggu sebelum hari pemberangkatan. Namun dalam perkembangannya juga mengalami pembelokan tujuan. Niat semula yang tulus berubah menjadi ajang deklarasi ke’mampu’an seseorang. Bahkan tasyakuran seolah menjadi sebuah rangkaian yang tak terpisahkan dari manasik haji. Semakin tinggi gengsi seseorang, maka semakin besar perhelatan yang digelar dalam rangka tasyakuran. Penceramah yang diundangpun menyesuaikan dengan kelas tasyakurannya.
Fenomena penyimpangan makna tasyakuranpun disikapi secara beragam. Sebagian calon jama’ah haji secara ekstrem memandang bahwa tidak perlu lagi melakukan tasyakuran. Mereka beranggapan bahwa momentum tersebut sia-sia saja bahkan cenderung negatif karena kita akan terjebak pada riya’ dan kesombongan. Sebagian yang lain mengatakan bahwa tasyakuran telah menjadi sebuah adat yang mau nggak mau kita harus ikuti, toh tidak menyalahi hukum agama. Masalah kita melaksanakannya dengan motivasi pamer atau yang lain itu urusan hati masing-masing.
Pada prakteknya saya termasuk yang tidak menyelenggarakan tasyakuran dengan cara mengundang orang lain untuk hadir ke rumah. Di samping rumah saya yang memang ’mungil’, saya merasa tidak sreg mendeklarasikan diri bahwa saya akan naik haji. Namun pada sisi lain saya membenarkan pendapat mengenai pentingnya pamitan dan do’a dari masyarakat sekeliling. Rasanya sombong juga kalau kita pergi jauh dalam waktu yang lama tidak pamitan sama tetangga. Apalagi masyarakat di lingkungan saya mayoritas Madura yang sangat hormat terhadap orang yang pergi haji. Oleh karena saya menjembataninya dengan cara membagikan makanan ke tetangga sebagai ajang pamitan. Sepekan sebelum berangkat haji, saya membagikan kotak makanan yang diatasnya bertuliskan ungkapan pamitan dan harapan do’a agar perjalanan ke tanah suci lancar. Selebihnya saya hanya pamitan dan titip keamanan rumah kepada ketua RT dan tetangga kanan kiri rumah.
Sampai di sini saya menganggap masalah tasyakuran selesai dan semoga saya bisa menghidari riya’ (walaupun itu merupakan amalan hati yang memang susah dideteksi). Namun ada hal lain yang kurang terantisipasi pada hari-hari akhir menjelang keberangkatan. Kami berangkat dari rumah hari senin. Mulai jum’at siang hingga ahad malam, tamu yang terdiri dari tetangga, saudara dan teman dekat datang secara bergelombang (walaupun tidak dalam jumlah banyak, jumlah total lebih dari 50 orang). Mereka sebagiannya sudah tahu dari awal tentang keberangkatan kami, tapi sebagian besar memang baru saja mengetahuinya. Khusus mengenai tetangga yang telah kami bagikan makanan dalam kotak, mereka juga datang menjelang hari H karena mereka merasa perlu menghormat kepergian kami.
Akhirnya saya berkesimpulan bahwa masalah tasyakuran itu merupakan persoalan sosial yang perlu kita perhitungkan terkait dengan manajemen tamu. Sedangkan ekses yang timbul berupa munculnya riya’ dan bibit kesombongan itu kita serahkan kepada masing-masing individu yang menjalaninya. Dan dalam setiap kegiatan /amalan apapun, kemungkinan dihinggapi riya’ sangat memungkinkan. Bahkan riya’ bisa menghinggap pada diri kita dalam kesendirian saat qiyamullail.

Wallahu ’alam bishshowab.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: